Regulasi Ganja Untuk Medis Sebentar Lagi Keluar

Regulasi Ganja Untuk Medis Sebentar Lagi Keluar

Regulasi Ganja Untuk Medis Sebentar Lagi Keluar – Penggunaan ganja untuk kepentingan medis kerap menjadi pro dan kontra. Namun kini regulasi ganja sebentar lagi keluar. Mentri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin telah melakukan kajian terkait riset ganja untuk keperluar medis. Ia mengatakan bahwa dalam waktu dekat akan segera menerbitkan regulasi yang mengatur pelaksaan riset tanaman ganja untuk kebutuhan medis.

Baca informasi dan artikel menarik lainnya di : alex-bootlegger

“Kita sudah melakukan kajian, nanti sebentar lagi akan keluar regulasinya untuk kebutuhan medis” ujar Mentri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin pada hari Kamis (30/06/2022). Budi mengatakan tujuan dari regulasi tersebut untuk mengontrol seluruh fungsi proses penelitian. Yang mengarah pada pengembangan ilmu pengetahuan pada dunia medis.

Budi meyakini, semua tanaman dan binatang ciptaan Tuhan pasti memiliki manfaat untuk kehidupan. Salah satunya morfin, sebagai alkaloid analgesik yang sangat kuat dan merupakan agen aktif utama yang ada pada opium.

“Morfin lebih keras dari ganja, tapi dipakai untuk medis. Ganja itu sebenarnya sama seperti morfin, morfin lebih keras dari ganja, itu kan ada dipakai untuk yang bermanfaat,” katanya.

Budi mengatakan manfaat tanaman ganja tergantung pada penggunanya. Jika menyalahgunakannya dapat memicu dampak negatif, tidak hanya pada diri sendiri, tapi juga masyarakat.

Seperti halnya morfin pada dunia medis yang berfungsi meredam rasa sakit pada luka pada tubuh manusia, peneliatian tanaman ganja pun untuk melihat manfaatnya lewat riset, data serta fakta ilmiah, kata Budi menambahkan.

“Penelitian morfin itu bagus, untuk gak sakit kalau ada apa-apa, seperti kita tertembak,” katanya.

Budi mengatakan kegiatan penelitian tanaman ganja akan melibatkan kalangan perguruan tinggi untuk menghasilkan kajian secara ilmiah untuk kebutuhan medis.

“Kalau sudah lulus penelitian produksinya, harusnya kita jaga sesuai dengan fungsi medisnya,” katanya.

Menurut Undang-undang

Dasar dari keputusan Kemenkes untuk menerbitkan regulasi penelitian tanaman ganja adalah Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Pada Pasal 12 ayat 3 dan Pasal 13 aturan itu menyebutkan, ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyelenggaraan produksi dan/atau penggunaan dalam produksi dengan jumlah yang sangat terbatas untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi beraturan dengan peraturan menteri.

Penyebab Pembahasan

Pembahasan mengenai kebutuhan ganja untuk pengobatan mencuat setelah seorang ibu bernama Santi Warastuti asal Sleman, Yogyakarta, beserta anaknya Pika yang mengidap cerebral palsy atau gangguan yang memengaruhi kemampuan koordinasi tubuh seseorang, melakukan aksi damai pada kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, pada Car Free Day (CFD), Ahad (26/6/2022). Santi berjalan dengan memegang papan putih dengan tulisan besar “Tolong Anakku Butuh Ganja Medis”.

Santi juga membawa sebuah surat kepada hakim Mahkamah Konstitusi agar segera memutuskan gugatan uji materi terhadap UU No 35 tahun 2009 tentang Narkotika yang ia mohonkan sejak dua tahun lalu. Uji materi UU No 35 tahun 2009 tentang Narkotika itu dilayangkan Santi ke MK bersama dua orang ibu lain pada November 2020.

Wakil Presiden Angkat Bicara

Sementara itu Wakil Presiden pun angkat suara terkait ganja medis. Ia meminta Majelis Ulama Indonesia (MUI) agar mengkaji ganja untuk pengobatan hingga menerbitkan fatwa.

Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat KH Miftahul Huda menyampaikan, MUI akan membahas permintaan fatwa tentang ganja untuk medis dalam rapat pimpinan. Selanjutnya dia mengatakan, MUI dalam memberikan solusi keagamaan mempertimbangkan kemaslahatan umum secara holistik.

Pada akhirnya MUI akan melakukan kajian terkait ganja, lanjut Kiai Miftah, memperhatikan berbagai aspek. “MUI akan mengkaji substansi masalah terkait dengan permasalahan ganja ini. Dari sisi kesehatan, sosial, ekonomi, regulasi, dan dampak yang ditimbulkan,” kata dia.

Ketua MUI Bidang Fatwa, KH Asrorun Ni’am Sholeh menyebut permintaan fatwa tentang langkah selanjutnya pada ganja untuk keperluan medis. “Kami apresiasi dan akan tindaklanjuti permintaan tersebut dengan pengkajian dalam perspektif keagamaan,” katanya.

Selain itu Kiai Ni’am mengungkapkan, fatwa merupakan jawaban keagamaan atas masalah yang muncul pada masyarakat. “Jadi basisnya adalah pertanyaan dari masyarakat,” ujar Kiai Ni’am.

Selanjutnya dia menambahkan, MUI akan berkontribusi dalam memberikan solusi keagamaan atas dasar pertimbangan kemaslahatan umum secara holistik. Berbagai solusi ini pun bisa bermacam-macam bentuknya. Salah satunya ialah dengan membuat fatwa yang baru.

“Apakah bentuknya dengan sosialisasi fatwa yang sudah ada, penguatan regulasi, rekomendasi untuk penyusunan regulasi, atau dalam bentuk fatwa baru. Kita akan kaji, nanti dilihat” ujar Kiai Ni’am.